PENDAHULUAN

Sastra daerah adalah “… karya sastra yng terdapat di seluruh Indonesia yang lahir dalam bahasa daerah….(Gani, 1994). Apabila diperhatikan, sastra daerah sebagaimana sastra pada umumnya adalah peristiwa bahasa dan peristiwa seni (Enre, 1988:1 dalam Gani, 1994). Sebagai peristiwa bahasa, sastra daerah ini perlu dibina, dilestarikan dalam upaya mengembangkan dan memperkaya khazanah bahasa Indonesia dan khazanah budaya bangsa sebagai salah satu unsur kepribadian bangsa; dan sebagai peristiwa seni, sastra daerah perlu dipelihara terus supaya tetap mampu menjadi budaya pengungkap masyarakatnya (Gani, 1994). Hal yang demikian itu tidak terkecuali bagi sastra daerah di Sumatera Selatan perlu dibina dan dilestarikan agar bermanfaat bagi pengembangan seni budaya bangsa Indonesia.
Usaha untuk meneliti hasil-hasil sastra daerah di Sumatera Selatan telah beberapa kali dilakukan, antara lain oleh para dosen FKIP dan beberapa mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Sriwijaya, serta Balai Bahasa Palembang. Aspek yang diteliti dalam penelitian-penelitian tersebut cukup beragam, di antaranya sastra lisan, yaitu karya sastra yang diungkapkan atau digunakan dengan media bahasa secara lisan/dituturkan.
Mengingat banyaknya sastra daerah yang dituturkan secara lisan, maka sangat perlu diadakan pelestarian terhadap sastra daerah tersebut agar tidak punah sekalipun sang penutur telah tiada.
Untuk melestarikan sastra daerah dari kepunahan, perlu adanya peng-inventarisasian dan pendokumentasian terhadap sastra daerah tersebut.
Dari hasil penginventarisasian sastra daerah khususnya sastra lisan ini diharapkan agar sastra lisan itu akan tetap lestari . Selain itu kita dapat mengambil nilai luhur yang terkandung di dalam sastra daerah.








2. PANTUN RAKYAT KOMERING

2.1  Pantun
Pantun merupakan salah satu bentuk puisi lama. Dari beberapa macam bentuk puisi lama, pantun merupakan bentuk puisi lama yang tertua. Pantun terdiri dari empat baris, tiap baris terdiri dari 8 – 10 suku kata yang bersajak (rima) “ab ab”. Tiap bait pantun, isi atau maksudnya terdapat pada baris yang terakhir, yaitu baris ketiga dan keempat. Dua baris atasnya, yaitu baris pertama dan kedua disebut sampiran, tidak mempunyai arti yang terang atau jelas.
Menurut isi dan maksudnya tersebut, pantun dapat dibedakan sebagai berikut.
1. Pantun anak-anak, terdiri atas:
a. pantun gembira/suka cita;
b. pantun teka-teki.
2. Pantun muda, terdiri atas:
a. pantun dagang;
b. pantun perhubungan, terbagi atas:
1) pantun berkenalan;
2) pantun berkasih-kasihan atau percintaan;
3) pantun berpisahan atau perceraian
4) pantun berduka cita.
c. Pantun jenaka.
3. Pantun tua, terdiri atas:
a. pantun nasihat;
b. pantun adat;
c. pantun agama.
Dari hasil penginventarisasian yang telah penyusun lakukan terhadap pantun rakyat  Komering, banyak ditemukan jenis pantun untuk muda-mudi yang lazim disebut pantun muda. Contohnya sebagai berikut.
1) Pantun Muda
No.
Bahasa Derah
Bahasa Indonesia
1.
Biduk putuk
Sarak bak kunang-kunang
Maranai mirak kabujuk
Iya rabai kona bodang
Perahu pendek
Penuh oleh kunang-kunang
Bujang mencari perhatian
Dia takut kena pukul
2.
Sai pitu rik sai walu
Bilangan lima bolas
Api hagamu payu
Asak radu anggotas
Yang tujuh dengan yang delapan
Hitungan lima belas
Apa maumu jadi
Asal selesaikan dulu panen
3.
Mongan bajumpuk-jumpuk
Nasak bucanting-canting
Pangliakku mak tungguk
Pangasamu kok goring
Makan sejemput-sejemput
Masak bekaleng-kaleng
Penglihatanku tidak sampai
Perasaanmu sudah senang
4.
Anggulai pidang lawas
Iwakna batu hulu
Mongan na kok mawas
Jama-jama rik mantu
Masak pindang laos
Ikannya kepala batu
Makannya sudah siang
Sama-sama dengan menantu
5.
Lapah-lapah ti Minanga
Paliak murli lagak
Amon niku mimang haga
Ratong ko indok bapak
Jalan-jalan ke Minanga
Melihat gadis cantik
Kalau kamu memang suka
Datangkan orang tua mu
6.
Dang mandi di wai bulok
Cak tian lamon buha
Dang manjau di murli tulok
Dituilko ompai maha
Jangan mandi di air keruh
Kata orang banyak buaya
Jangan berkunjung di gadis tuli
Disenggol baru tertawa
7.
Alang tuha du urai
Lokok pacak tingangas
Amon tuha meranai
Tinggal pacungas-cungas
Alangkah tua buah pinang
Masih bisa dipakai nyirih
Jika tua membujang
Tinggal berangan - angan
8.
Manuk handak
Mandi di liba pulau
Meranai minjak mulak
Nyopok murli sai holau
Burung putih
Mandi di ilir pulau
Anak laki-laki meranjak bujang
Mencari gadis yang cantik
9.
Bismillah laju lapah
Kulhu laju liu
Najin di padang arfah
Mak mundur tunai radu
Bismilah terus pergi
Kulhu terus lewat
Walau di Padang Arafah
Tidak mungkin mundur lagi

10.
Sirokda pai ijanmu
Ompai nyak haga cakak
Tanyada pai rik sai tuhamu
Marik mak suka dinyak
Ikatlah dulu tanggamu
Baru saya mau naik
Tanyalah dulu dengan orang tuamu
Kalau tidak setuju denganku
11.
Ijan radu kusirok
Lantai radu kupaku
Kiyai lajuda cakak
Sai tuha ku kok panuju
Tangga sudah kuikat
Lantai sudah kupaku
Kakak silakan naik
Orang tua ku sudah setuju
12.
Alang kuat ilmumu
Jakpamu butitawai
Basa pacotok niku
Basing gawi tikacai
Alangkah kuat ilmumu
Darimana kamu belajar
Kalau teringat kamu
Segala kerja terbengkalai
13.
Amun niku juduku
Mak kujuk payah-payah
Kukurukko lom gudu
Kugantungko di galah
Kalau kamu jodohku
Tidak kusuruh payah-payah
Kumasukkan di botol
Kukalungkan di leher
14.
Amun niku juduku
Mak kujuk payah-payah
Gawimu dunggak sapu
Nyoruk celana bodah
Kalau kamu jodohku
Tidak kusuruh payah-payah
Kerjamu di atas pondok
Menjahit celana sobek
15.
Alang bangik du jambu
Kiriman jak Jukarta
Puluh tahun kutunggu
Asak nyak tahmat sikola
Alangkah enaknya jambu
Kiriman dari Jakarta
Sepuluh tahun kutunggu
Asal saya selesai sekolah
16.
Lapah-lapah ti Botung
Kudo jaoh Minanga
Ombai ambukbuk tiung
Kadongian runggakna
Jalan-jalan ke Betung
Tidak seberapa jauh dari Minanga
Nenek merebus terong
Kedengaran mendidihnya
17.
Sabidang kombang kipas
Tilailai di haluan
Tinggal kas tinggal bokas
Tinggal uti-utian

Kain kembang kipas
Dijemur di muka
Tinggal bekas tinggal bekas
Tinggal ceritanya saja
18.
Nanom punti lom lioh
Bubuah sanga sikat
Nyak pandai niku jawoh
Galak-galak bukirim surat
Menanam pisang di dalam alang-alang
Berbuah satu ikat
Aku tahu kamu jauh
Sering-sering berkirim surat
19.
Kamangi dilom lioh
Wat ombau mak kanahan
Mak bangik amun jawoh
Kacah ipi-ipian
Kemangi di dalam ilalang
Ada bau tidak kelihatan
Tidak enak kalau jauh
Selalu jadi impian
20.
Nyak mirak nanom cabi
Nyak rabai dilalakna
Nyak mirak ngalaki
Nyak rabai dinganakna
Aku ingin menanam cabai
Aku takut dipedasnya
Aku ingin bersuami
Aku takut melahirkannya
21.
Alang holau du balai
Isina pari ronik
Alang holau tinadai
Sayangna lokok ronik
Alangkah bagusnya balai
Isinya padi kecil
Alangkah bagus pacar
Sayangnya masih kecil
22.
Sembahyang hari Jumat
Kapal terbang tiliu
Sembahyang salah niat
Bak nyak ngingokko niku
Sembahyang hari Jumat
Kapal terbang lewat
Sembahyang salah niat
Oleh aku teringat denganmu
23.
Bubiduk di wai doros
Timbana bawak joring
Saro-saro kutodos
Asak lapah buginding
Beperahu di air deras
Timbanya kulit jengkol
Susah-susah kutahankan
Asal pergi bergandeng
24.
Anak iwak dikanik iwak
Anak kucing dikanik kucing
Amon mirak cawako mirak
Amon goring cawako goring
Anak ikan dimakan ikan
Anak kucing dimakan kucing
Kalau ingin katakan ingin
Kalau senang katakan senang
25.
Dang kuti mandi dija
Tangga sikam tanggolom
Dang kuti nadai dija
Murli sikam puliom

Jangan kalian mandi di sini
Tangga kami tenggelam
Jangan kalian berpacaran di sini
Gadis kami pemalu
26.
Dang nulis dunggak kaco
Nulisda dunggak mijah
Dang miwang bak cinta
Miwangda bak dusa
Jangan nulis di atas kaca
Nulislah di atas meja
Jangan menangis karena cinta
Menangislah karena dosa
27.
Kamincak busapatu
Tikus bukaruk hulu
Ya Allah ya Tuhanku
Idan nyak mongsa judu
Kodok besepatu
Tikus berikat kepala
Ya Allah ya Tuhanku
Kapan kudapat jodoh
28.
Howi sah-sah kabolah
Tikirim ti Bengkulu
Sapada haga pindah
Api nyak api niku
Rotan kecil sebelah
Dikirim ke Bengkulu
Siapa yang mau pindah
saya atau kamu
29.
Mojong di pinggir tobing
Ngilunko wai Tiliba
Hujan panas ngaliling
Jak miwang tumpak maha
Duduk di pinggir tebing sungai
Mengikuti arus air ke hilir
Hujan panas mengelilingi
 Dari menangis lalu tertawa
30.
Amon hatimu dinyak
Kok saka kukapandai
Anjuk wai campur minyak
Bayang ga padom posai
Kalau hatimu disaya
Dari dulu kutelah tahu
Seperti air campur minyak
Bayangan akan hilang sendiri
31.
Itik ronik
Bulangai di wai doros
Kabayan lokok ronik
Makkung pacak bupulos
Itik kecil
Berenang di air deras
Pengantin masih kecil
Belum bisa bersanggul
32.
Katutu mandu padu
Bupawai di galigih
Sikola kok haga radu
Ganta nyak kok haga milih
Perkutut manggut-manggut
Berjemur di ranting bambu
Sekolah sudah hampir selesai
Sekarang saya mau milih
33.
Alang pandaimu tupai
Caramu nobuk nyiwi
Alang pandaimu kiyai
Caramu nyopok murli

Alangkah pandaimu tupai
Caramu melubangi kelapa
Alangkah pandaimu kakak
Caramu mencari gadis
34.
Sai pitu sai walu
Hitungan lima bolas
Niku mak haga radu
Dunia lokok luas
Yang tujuh yang delapan
Hitungan lima belas
Kamu tidak mau sudah
Dunia masih lebar
35.
Sai pitu rik sai walu
Bilangan lima bolas
Nyak makkung mikirko niku
Nyak mikirko cakak kolas
Yang tujuh yang delapan
Hitungan lima belas
Aku belum memikirkan kamu
Aku memikirkan naik kelas
36.
Buah lamasa puluk gitohna
Buah kapuk warnana handak
Nyak nanya pai sapa golarna
Nyak haga bak du ia lagak
Buah nangka lengket getahnya
Buah kapuk warnanya putih
Aku tanya dulu siapa namanya
Aku mau karena dia tampan
37.
Kuak-kuak di lobak
Betutu  batang hari
Dang miwang niku Jambak
Ubakmu lapah haji
Suara burung di lebak
Ikan betutu di sungai
Jangan menangis kamu, Jambak
Bapakmu pergi haji
38.
Sikam nom sikam pitu
Nasak tolu ngacanting
Pak tongah tiliyu
Taka kincingna rawing
Kami berenam kami bertujuh
Masak tiga kaleng susu
Paman pertengahan lewat
Serta periuknya pecah
39.
Haga di wai di wai dapai
Pangkalan laju mandi
Haga nadai nadaida pai
Mari mak nyolsol lagi
Mau ke sungai ke sungailah dulu
Pangkalan terus mandi
Mau pacaran-pacaranlah dulu
Supaya tidak menyesal lagi
40.
Nyak amit niku kantur
Pasiban najin sosat
Najin kita titabur
Howi sai dang pogat
Aku pergi meninggalkan sekolah
Menuju ke pertemuan
Walau kita berpisah
Rotan satu jangan putus
41.
Bunga cempaka handak
Ina kok haga layu
Ganta tinggalkoda nyak
Mak buguna di niku

Bunga cempaka putih
Itu sudah hampir layu
Sekarang tinggalkan saya
Tidak berguna denganmu
42.
Lapah-lapah bumotor
Lapahna ngambai-ambai
mon haga jadi pintor
Sikolah dang rabai-rabai
Jalan-jalan bermotor
Jalannya berombongan
Kalau mau jadi pintar
Sekolah jangan takut-takut
43.
Lading-lading kucangking
Sumadi mak sibosi
Parawatin tiladin
Sumadi mak ngalaki
Pisau-pisau kujinjing
Daripada tidak punya pisau
Bapak-bapak dilayani
Daripada tidak punya suami
44.
Garincing bunyi paku
Tumpak tipotak guk luwah garang
Kusolik layon niku
Ngahumpas laju miwang
Gemerincing bunyi paku
Langsung terpental ke teras
Kulihat bukan kamu
Membanting badan lalu menangis
45.
Amon wat rama-rama
Labuh di batang jambu
Malaikat ku yonna
Haga singga rindu niku
Kalo ada kupu-kupu
Hinggap di dahan jambu
Pujaankulah itu
Mau singgah rindu kamu 
46.
Cakak jurambah loli
Pangatinganna kok burak
Wat dilom mimpi
Niku ga ninggalko nyak
Naik jembatan berayun
Pegangannya sudah buruk
Ada terlintas dalam mimpi
Kamu akan meninggalkanku
47.
Wai balak watak paha
Ngahanyukko roba buluh
Lohotku di mantuha
Kirim pai iwak ngoluh
Air besar setinggi paha
Menghanyutkan sampah bambu
Pesanku di mertua
Kirim dulu ikan asin
48.
Wai balak watak paha
Nga hanyukko roba buluh
Lohotku di mantuha
Mulang-mulang di tiuh
Air besar setinggi paha
Menghanyutkan sampah bambu
Pesanku di mertua
Sering-sering pulang ke kampung
49.
Lapah-lapah ti darak
Paliak karangjang burak
Pangasaku ngolap nyak
Bokahna  nguikui kurak

Jalan-jalan ke darat
Terlihat keranjang buruk
Perasaanku manggil saya
Rupanya menggaruk kurap
50.
Kuruk masigit manom
Masolah bulung nyiwi
Di uwai niku kosolom
Di apui kucamburi
Masuk masjid gelap
Sajadah daun kelapa
Di air kamu keselami
Di api kuceburi
51.
Hujan kodok di hulu
Halipu kumarayap
Mak haga niku radu
Mak munih ga kuharap
Hujan lebat di hulu
Keong banyak merayap
Tidak mau kamu sudah
Tidak pula kuharap
52.
Amon tuha sinomai
Lokok pacak titanom
Amon tuha meranai
Diliyak murli liyom
Kalau tua bibit padi
Masih bisa ditanam
Kalau sudah tua bujang
dilihat gadis malu
53.
Bunga cempaka handak
Ina kok haga layu
Ganta tinggalkoda nyak
Mak beguna di niku
Bunga cempaka putih
Itu hendak layu
Sekarang tinggalkanlah aku
Tidak berguna padamu
54.
Tinggal kas tinggal bokas
Tinggal utian-utian
Di badan mak ongkah kas
Di hati paraduan
Tinggal bekas tinggal bekas
Tinggal ingat-ingatan
Di  badan tidak ada bekas
Di hati tertanam
55.
Cabi cungak mak lalak
Timboli jak kalangan
Bak api hatiku cugak
Bak adik mak ongka kalioman
Cabai rawit tidak pedas
Dibeli dari kalangan
Mengapa hatiku kecewa
Karena adik tidak punya perasaan malu
56.
Nyak amak ti Mangulok
Nyak haga ti Rasuan
Nyak mak haga meranai tulok
Ga ngumung kacah tuilan
Saya tidak mau ke Mangulak
Saya mau ke Rasuan
Saya tidak mau bujang yang tuli
Tiap bicara selalu mau dicolek
57.
Sembahyang di pinggir wai
Sujud di lambung batu
Tuhan hoda sai pandai
Wat niatku di  niku

Sembahyang di pinggir sungai
Sujud di atas batu
Tuhan tula yang pandai
Ada niatku denganmu
58.
Sa sa salopa
Salopa bawak joring
Mintah nyak maha-maha
Pangasamu nyak goring
Ini wadah tembakau
Wadah tembakau dari kulit jengkol
Mentang saya tersenyum
Perasaanmu saya senang
59.
Ngawil di uncuk roba
Umpannya karing-karing
Manjau di murli tuha
Kalapahna nyang giring
Mancing ikan di ujung kayu
Umpannya ikan asin
Mengunjungi di gadis tua
Jalannya miring-miring
60.
Lapah-lapah di jerambah
Pahalu meranai tolu
Sai holauna di tongah
Sayangna mak juduh
Jalan-jalan di jembatan
Bertemu bujang tiga
Yang tampannya di tengah
Sayangnya tidak jodoh

2) Pantun Tua
Selain pantun muda tersebut, dari hasil penginventarisasian yang telah dilakukan terhadap pantun rakyat Komering juga ditemukan jenis pantun yang digunakan oleh para orang tua baik yang berupa nasihat mapun agama atau yang dikenal dengan jenis pantun tua. Pantun-pantun tersebut adalah sebagai berikut.

No.
Bahasa Derah
Bahasa Indonesia
61.
Masak-masak da punti
Paronti angguai bingka
Masak-masak da bujudi
Urung mak kuruk neraka
Masak-masaklah pisang
Dapat dibuat kue
Masak-masaklah berjudi
Tidak urung masuk neraka
62.
Alang polik du hati
Nginang sanak puhiwang
Kanianna kok roti
Lokok haga kampolang
Alangkah peliknya hati
Mengasuh anak mudah menangis
Makanannya sudah ada roti
Masih mau kemplang (kerupuk)
63.
Sembahyang harani Jumat
Kapal torbang tiliu
Amon niku umat Nabi Muhammad
Sembahyang lima waktu

Sembahyang hari Jumat
Kapal terbang lewat
Kalau kamu umat Nabi Muhammad
Sembahyang lima waktu
64.
Harani sija harani Jumat
Kapal terbang tiliu
Amon ingok Nabi Muhammad
Gawiko sembahyang lima waktu
Hari ini hari Jumat
Kapal terbang lewat
Kalau ingat Nabi Muhammad
Kerjakan sembahyang lima waktu
65.
Jakpa ratongna lintah
Jak huma rogoh ruk kali
Jakpa ratongna perintah
Jak Alloh rogoh ruk Nabi
Darimana datangnya lintah
Dari sawah turun ke kali
Darimana datangnya perintah
Dari Allah turun ke nabi
66.
Kartutu mandu pandu
Dunggak batang langkupa
Dunia butambah maju
Sayang badan kok tuha
Perkutut mangut-manggut
Di atas batang jambu bol
Dunia bertambah maju
Sayang badan sudah tua
67.
Amon ga ngali lawas
Adaiya tambilang bosi
Amon haga cakak kolas
Dang galak disaingi
Kalau mau menggali laos
Ini dia linggis besi
Kalau mau naik kelas
Jangan mau di saingi
68.
Baju handak kancing pak
Baju halom kancing nom
Handakmu nyak mak mirak
Halomku nyak mak liom
Baju putih berkancing empat
Baju hitam berkancing enam
Putihmu aku tidak ingin
Hitamku aku tidak malu
69.
Riyang-riyang di pulau
Sarati turun mandi
Mak ongka guna holau
Amon jahat perangi
Riyang-riyang di pulau
Itik serati pergi mandi
Tidak ada guna cantik
Kalau jahat perangai
70.
Kartutu mandu pandu
Bupawai di galigih
Gawi sikam kok radu
Ngucapko turima kasih
Perkutut manggut-manggut
Berjemur di ranting bambu
Kerja kami suda selesai
Diucapkan terima kasih
71.
Bak api niku moguk
Api sai dipoguki
Bagianmuna kok tungguk
Mak pacak nyolsol lagi

Mengapa kau termenung
Apa yang direnungkan
Bagianmu sudah sampai
Tidak bisa menyesal lagi
72.
Tiliba pai guk Pulimbang
Mari niku mak bingung
Nyopok pengalaman dang maralang
Rugi pai mari untung
Pergi dulu ke Palembang
Supaya kamu tidak bingung
Mencari pengalaman jangan tanggung
Rugi dulu baru untung

Di antara jenis pantun tua yang ditemukan. ada yang berupa kisah atau cerita. Di daerah tersebut dikenal dengan “pangisah”. Pantun tersebut saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya dan membentuk suatu cerita. Contoh yang ditemukan se-bagai berikut.

No.
Bahasa Derah
Bahasa Indonesia
73.




74.




75.
Amon ngitung ko irak
Mirak iyot di rami
Anying hati ku cugak
Di tunggu jas bahari

Kucikanna bupak-pak
Anying mak ongka aji
Dipa galahna togak
Sapisir mak wat ngisi

Kancing na kancing kawak
Cak pulimbang na peniti
Lapahna ngakak akak
Maklum mak ulah tirami
Jikalau mikirkan kemauan
Kepingin ikut keramaian
Tapi hati ku kecewa
Cuma punya jas bahari

Sakunya berempat-empat
Tapi tidak ada arti
Yang mana kerahnya tegak
Sesenpun tak punya isi( duit)

Kancingnya kancing kawat
Kata orang Palembang peniti
Jalannya celingak-celinguk
Maklum tidak pernah ke tempat ramai
76.




77.




78.




79.

Bunyina jak nga huma
Anying mak mongsa pari
Bagi hulun sai mongsa
Kok bola ti juali

Alang nomon budaya
Alang puas bu boli
Pangintangan mak ongka
Najin wat mak mada’i

Tiap pagi ho ngopi
Mamis na layon gula
Mih nuang ko tangguli
Kanian punti ngura

Ompai ga tomu hati
Anying nanna jadida
Asak tanihi ngisi
Cerita nya dari besawah
Tetapi tidak dapat padi
Bagi orang yang dapat
Sudah habis dijuali

Alangkah seringnya berupaya
Alangkah seringnya belanja
Mata pencaharian tak ada
Walaupun ada tapi tidak memadai

Setiap paginya ngopi
Manisnya bukan gula
Hanya menuangkan cairan gula
Makanan pisang muda

Baru mau mulai besar
Tetapi nya jadila
Asal perut berisi
80.




81.




82.
Nyak lapah di huma
Ngusung bubu rua
Kupasangko kona
Kona botuk rua

Kupanggang ia bangik
Tiguring sor hingan
Sayangna mih cutik
Kurang-kurangan

Ga nasak mak si bias
Ga mawai mak si pari
Badan bolah bak agas
Kalambu mak kaboli
Aku pergi ke sawah
Membawa bubu dua
Kupasangkan kena
Kena ikan betok dua

Kupanggang ia enak
Digoreng apalagi
Sayangnya Cuma sedikit
Kekurangan

Mau masak tidak ada beras
Mau menjemur tidak ada padi
Badan habis oleh nyamuk
Kelambu tidak terbeli

3) Pantun Anak-anak
Di samping pantun tua dan pantun muda yang telah ditemukan, juga terdapat beberapa pantun anak-anak, yaitu sebagai berikut.
No.
Bahasa Derah
Bahasa Indonesia
83.
Amon haga ti Pulimbang
Cakak da mobil pagi
Kita murid dangkung mulang
Amon mak jam satu donti
Kalau mau ke Palembang
Naiklah mobil pagi
Kita murid jangan dulu pulang
Kalau tidak jam satu nanti
84.
Lapah kalangan amboli modu
Modu tiinum manis rasana
Amon mojong mapah dagu
Cubada torka api golarna
Pergi ke pasar membeli madu
Madu diminum manis rasanya
Kalau duduk bertopang dagu
Cobalah terka apa namanya
2.2 Pemakaian Pantun
Wilayah pemakaian pantun tersebut adalah di daerah pesisir sungai komering.  
Bahasa yang digunakan adalah bahasa Komering dialek Kangkung. Penggunaan pantun-pantun tersebut adalah sebagai berikut.
1)  Pemakaian pantun muda.
Pantun muda digunakan pada saat pertemuan antar muda-mudi.  yaitu dalam acara menjelang perkawinan, yang lebih dikenal dengan acara “ningkuk’ untuk wilayah daerah sekitar tersebut.. Para muda-mudi berkumpul di suatu acara khusus yang diadakan pada malam hari hingga pagi, Pada acara ini para muda-mudi mengungkapkan perasaan hatinya kepada orang yang disukainya. Pada umumnya pantun ditulis terlebih yang ditujukan kepada seseorang, lalu akan dibacakan atau diberikan langsung kepada siapa yang dituju. Acara ini biasa digunakan oleh para muda-mudi dalam mencari pasangan. 
Cara menggunakannya, saling bersahutan antara yang satu dan yang lain yang sudah berkumpul dengan diiringi terbangan (rebana). Terbangan dibunyikan secara bergantian oleh pihak pemudi atau pemuda ketika sedang tidak berpantun. Misalnya dari pihak pemudi ada yang sedang berpantun maka pihak pemudanya membunyikan terbangan sambil mendengarkan pantun.
Fungsi pantun-pantun tersebut selain untuk meramaikan acara pada malam hari (menghibur), juga berfungsi sebagai pengungkap perasaan para muda-mudi baik perasaan cinta, sedih, maupun gembira. Sebagai penutup acara, dituturkanlah pantun-pantun perpisahan, diantaranya yang telah penyusun tuliskan pada bagian pantun di atas.

2). Pemakaian pantun tua
Tidak seperti pantun-pantun sebelumnya, pantun tua tidak digunakan secara bersahutan. Pantun ini hanya digunakan oleh para orang tua kepada anaknya atau orang lain ketika pada acara perkawinan, misalnya dalam acara nyelimut (cacap-cacapan atau suap-suapan) dan ketika akan melepaskan kepergian anaknya atau orang lain yang dikenalnya.
Sesuai dengan isi dan maksudnya, yaitu berisi nasihat, adat, dan agama, pantun ini pada umumnya berfungsi untuk memberikan nasihat, walaupun pantun tersebut merupakan jenis pantun adat, agama, ataupun sindiran.
            Khusus pantun yang berupa kisahan “Pangisah”, digunakan pada waktu keramaian, persedekahan yang dimainkan oleh orang dewasa, sembari bermain terbangan yang disebut dengan istilah Hadara Mumbai.  Maksud dari inti pantun hanya untuk humor atau guyon yang menceritakan misalnya cerita  kesulitan atau keadaan  seseorang. Pantun ini juga sering digunakan dalam beradu pantun antara satu dusun dengan dusun yang lain atau malah antardaerah dengan daerah yang lain masih dalam wilayah Komering. Melihat banyaknya pantun yang berupa kisahan ini, dan belum terkumpul semuanya, untuk itu penyusun buat khusus kedalam kumpulan pantun yang berupa kisahan (dalam kelompok inventarisasi yang terpisah).

3). Pemakaian pantun anak-anak
Pantun anak-anak digunakan pada waktu mereka sedang bermain baik pada siang maupun malam hari (malam bulan purnama).
Seperti halnya pantun muda, pantun anak-anak ini juga digunkan secara ber-sahutan anatara anak-anak itu sendiri. Pantun yang sering mereka gunakan adalah teka-teki. Sambil bermain atau ketika sedang berkumpul bersama, mereka melontarkan pantun teka-teki tersebut dengan teman-temannya, kemudian yang lain mencoba untuk menebak dan menjawabnya.
Fungsi pantun-pantun tersebut hanyalah sebagai hiburan dan permainan bagi anak-anak.





















3. PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penginventarisasian pantun di Daerah Komering, khususnya di Desa Kangkung-Sukanegeri, dapat disimpulkan bahwa di daerah tersebut masih  banyak terdapat pantun-pantun sebagai salah satu budaya masyarakat daerah tersebut.
Pantun itu dapat digolongkan ke dalam pantun muda, pantun tua, dan pantun anak-anak seperti penggolongan pantun dalam karya sastra pada umumnya. Isi dan maksud pantun muda kebanyakan berisi percintaan, duka cita, dan perpisahan. Pantun tua banyak berisi nasihat sedangkan pantun anak-anak berisi teka-teki.
Pemakaian pantun saat ini mulai berkurang. Pantun hanya digunakan di saat menjelang ada acara pernikahan untuk muda-mudi yang dikenal dengan acara ningkuk dan di kalangan orang tua hanya di saat adanya keramaian/persedekahan, di saat memberi nasihat kepada sanak keluarga atau sebagai hiburan dengan diiringi musik-terbangan. Sedangkan pantun anak-anak digunakan hanya diwaktu mereka bermain, bersenda gurau sesama mereka.

3.2 Saran
Penginvetarisasian sasta daerah bertujuan untuk melestarikan warisan budaya daerah itu sendiri. Diharapkan di masa-masa yang akan datang, penginvetarisasian terhadap sastra daerah dapat terus dilakukan secara berkesinambungan, sehingga sastra daerah itu tidak akan punah.












IDENTITAS INFORMAN


  1. Nama                            : Edi Habson
Tempat/tanggal lahir     : Palembang,  30 Mei  1961
Alamat                         : Desa Kangkung, Kecamatan Semendawai Barat
                                      Kabupaten OKU Timur
Agama                         : Islam
Status                          : Guru di MTsN Kangkung

  1. Nama                             : Ismail
Tempat/tanggal lahir     : Kangkung, 1923
Alamat                         : Desa Kangkung, Kecamatan Semendawai Barat
                                      Kabupaten OKU Timur
Agama                         : Islam
Status                          : Pensiunan Pertamina Plaju-Palembang

Diposting oleh Rahmawati Blog on Selasa, 10 Januari 2012
categories: edit post

1 Responses to PENGINVENTARISASIAN PANTUN RAKYAT KOMERING

  1. Kiyai nyak haga butanyo "aluk aluk" ho apiya artina, nyak kok lupa, terimo kasih...

     

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Selamat Datang

Selamat datang di Blog Kontemplatif Cendekia, media yang mengajak Anda untuk sejenak merenung dan menjadi lebih bijak dalam melangkah.

Jam dan Tanggal

Pengikut

Total Tayangan Halaman

Visitors

free counters

About Me

Foto Saya
Rahmawati Blog
Lihat profil lengkapku